
Liverpool kembali menjadi sorotan karena menggelontorkan uang sebanyak Rp 1,4 triliun untuk merekrut bek muda Prancis, Jeremy Jacquet. Transfer ini dilakukan pada Selasa (3/2/2026), dan segera menuai kritik karena dianggap terlalu mahal untuk seorang pemain yang baru berusia 20 tahun.
Jalannya Transfer
Liverpool memboyong Jacquet dari klub Prancis Rennes dengan harga 72 juta euro, atau setara dengan Rp 1,4 triliun, termasuk biaya tambahan. Pemain ini diposisikan sebagai pengganti masa depan Virgil van Dijk di lini belakang Liverpool. Namun, harga yang dibayarkan oleh The Reds dianggap tidak sesuai dengan performa Jacquet hingga saat ini. Menurut analisis beberapa media, Jacquet baru tampil 15 kali untuk Rennes di musim lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda menjadi pemain kelas dunia.
Statistik Kunci
Jeremy Jacquet memiliki statistik yang menjanjikan, namun belum konsisten. Ia berhasil melakukan 85% pass akurat dalam liga Prancis musim lalu, namun hanya mampu menghentikan 1,2 tendangan per game. Bandingkan dengan Van Dijk, yang biasa melakukan 2,5 intersepsi per pertandingan di masa kejayaannya. Ini menjadi alasan utama mengapa transfer ini dianggap “bodoh” oleh sebagian penggemar.
Pandangan Ahli
Beberapa analis sepak bola melihat bahwa Liverpool tergesa-gesa dalam merekrut Jacquet. Mereka mengingatkan bahwa investasi sebesar ini harus didukung oleh performa yang lebih konsisten dari pemain tersebut. Namun, Liverpool mungkin telah melihat potensi jangka panjang di Jacquet, terutama mengingat usianya yang masih muda.
Penutup
Transfer Jeremy Jacquet akan menjadi ujian nyata untuk Liverpool. Pemain ini harus segera menunjukkan bahwa harga yang dibayarkan padanya adalah investasi yang sepadan. Penggemar bola disarankan untuk tetap menclos ketat perkembangan Jacquet musim depan, karena ini akan menjadi indikator penting apakah keputusan Liverpool dianggap “bodoh” atau tidak.






