Berita  

Kapolrestabes Medan Bersama Masyarakat Gelar Doa Bersama, Redam Ketegangan Massa Demo Daging Babi

Kapolrestabes Medan Bersama Masyarakat Gelar Doa Bersama, Redam Ketegangan Massa Demo Daging Babi
kapolrestabes medan Bersama Masyarakat Gelar Doa Bersama, Redam Ketegangan Massa demo daging babi

Ketegangan Masa Demo Daging Babi di Medan
Sejumlah pedagang dan konsumen daging babi menggelar aksi protes di Kantor Wali Kota Medan, siang tadi. Mereka mengecam Surat Edaran Wali Kota Medan Nomor 500-7.1/540 yang mengatur penjualan daging non-halal, dinilai membatasi ruang usaha. Aksi ini sempat memanas, namun Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak turun langsung memfasilitasi mediasi antara massa dengan pemerintah kota.
Latar Belakang Konflik
Protes ini bermula dari kekecewaan pedagang terhadap kebijakan Wali Kota Medan yang dianggap tidak memperhatikan kenyataan lapangan. Surat edaran tersebut dinilai merugikan usaha mereka, terutama di tengah lesunya daya beli masyarakat. Para pedagang menuntut revisi regulasi agar lebih adil dan memungkinkan usaha tetap berjalan.
Langkah Kapolrestabes Medan
Kombes Jean Calvijn Simanjuntak tidak hanya menjadi mediator, namun juga mengajak semua pihak untuk menyelesaikan masalah secara damai. Dalam doa bersama yang digelar di lokasi, dia mengutuk kekerasan dan meminta semua pihak untuk berkomunikasi dengan bijak. Langkah ini berhasil meredam situasi yang sempat tegang dan menghindari eskalasi lebih lanjut.
Dampak dan Reaksi Sosial
Aksi ini menarik perhatian publik, terutama komunitas pedagang dan konsumen daging di Medan. Beberapa pihak menyatakan dukungan atas langkah Kapolrestabes Medan dalam menjaga ketertiban dan mendorong solusi dialog. Pemerintah kota pun mengatakan akan mempertimbangkan aspirasi massa sebelum menetapkan kebijakan definitif.
Penutup
Ketegangan yang terjadi di Medan menjadi reminder penting atas perlunya komunikasi terbuka antara pemerintah dan masyarakat. Doa bersama yang digelar Kapolrestabes Medan bukan hanya meredam konflik, namun juga menjadi contoh bagaimana masalah bisa diselesaikan secara damai dan adil. Apakah ini menjadi langkah awal perubahan positif di Medan? Hanya waktu yang akan memberikan jawabannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *