Seorang pekerja pabrik batu bata di pinggiran Lahore, Pakistan, dihadapkan pada pilihan yang sulit. Harus terus terjerat utang tanpa akhir atau menjual satu-satunya aset berharga yang ia miliki, yakni ginjal.
Shafeeq Masih (bukan nama sebenarnya) mengaku terus ditekan oleh pemilik pabrik untuk melunasi utang yang disebut mencapai 900.000 rupee atau sekitar 161 juta rupiah. Tetapi, sekeras apa pun ia bekerja, jumlah utang tersebut justru terus bertambah.
Masih menyadari adanya manipulasi dalam pencatatan keuangan, tetapi ia tidak berdaya.





