
Latar Belakang
Gubernur Jakarta Pramono Anung baru-baru ini mengambil langkah kontroversial dengan melarang organisasi kemasyarakatan (ormas) melakukan penyisiran atau sweeping ke rumah makan selama bulan Ramadan. Keputusan ini mendapat respon positif dari warga di Manggarai, Jakarta Selatan, yang mendukung inisiatif tersebut sebagai wujud toleransi antar sesama.
Fakta Penting
Seorang warga Manggarai bernama Epi (50) mengungkapkan bahwa setiap individu memiliki keyakinan dan pilihan masing-masing. Menurutnya, kerukunan antar warga adalah fondasi penting yang harus dijaga. “Bagusnya begitu ya. Soalnya namanya orang kan ada yang nggak puasa, laper. Tapi kalau ini mah toleransi aja,” ujar Epi saat ditemui di kawasan Manggarai, Selasa (17/2/2026).
Dampak
Langkah Gubernur Anung ini tidak hanya menjadi perhatian publik, tetapi juga menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat. Larangan sweeping selama Ramadan dianggap sebagai langkah positif untuk mendorong harmoni sosial di tengah perbedaan keyakinan. Warga setempat menilai bahwa toleransi adalah kunci utama dalam menjaga kehidupan berkomunitas yang damai.
Penutup
Keputusan Gubernur Anung untuk melarang sweeping di rumah makan selama Ramadan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Dengan ini, Jakarta tidak hanya menjadi contoh kota yang toleran, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial yang positif bagi warganya.






